Penuh mukjizat dan penyertaan Tuhan, itulah 40 tahun perjalanan yang dilalui GBT. Kristus Alfa Omega yang didirikan oleh Pdt. Ir. Timotius Subekti. Ucapan syukur dan pujian hanya bagi Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” (Roma 11:36).

Keluarga Yap Lien Tek saat pernikahan keluarga

 

 

Masa kecil, pendidikan dan karir

 

Kisah Ir. Timotius Subekti untuk menjadi hamba Tuhan sungguh sangat berliku. Apalagi, Subekti yang lahir pada 28 Juni 1941 ini waktu kecil dikenal gagap. Bahkan, ketika masih di Sekolah Dasar sampai lanjutan pertama, banyak teman sekelas menyebutnya seperti kepiting rebus, sebab wajahnya selalu berubah kemerah-merahan ketika disuruh maju oleh guru.

Timotius Subekti lulus pendidikan sekular di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Teknik Telekomunikasi. Ia selesai di universitas bergengsi itu pada Desember 1963 dan diwisuda April 1964. Setelah lulus kuliah, anak ketiga dari pasangan Yap Lien Tek dan Tan Swan Nio ini diterima sebagai pegawai negeri di Departemen Pertambangan yang saat itu menterinya dijabat Chairul Saleh.

Namun, ia hanya lima bulan bertahan di lembaga pemerintah itu. Soalnya, dia merasa tidak ada tantangan dalam pekerjaan. Di instansi pemerintah tersebut setiap hari sebagian besar waktunya hanya dihabiskan untuk baca koran, duduk dan hanya mengerjakan tugas jika ada perintah dari atasan.

Suatu hari di tahun 1964, berbekal informasi lowongan pekerjaan di sebuah koran di Jakarta, Subekti mengajukan lamaran pekerjaan di perusahaan komputer IBM. Setelah melalui beberapa tes, dia diterima sebagai Customer Service. Lantaran dinilai berprestasi oleh perusahaan, beberapa bulan kemudian, Subekti dikirim oleh perusahaan untuk menempuh pendidikan di Sydney, Australia.

 

Masa kekeringan rohani

Meski karir pekerjaannya cemerlang di IBM, namun Subekti merasa ada yang kurang dalam kehidupan rohaninya, bahkan sudah pada taraf kekeringan rohani. Kondisi berbeda ketika masih kuliah di Bandung dimana waktu itu ia aktif di sebuah gereja yang dipimpin oleh Pendeta Boy Ogi.

Di Jakarta, rasa kepuasan rohani semakin sulit terpenuhi. Salah satu sebabnya, saat menyampaikan khotbah, pengkotbah lebih banyak guyonan-nya. Bahkan, dalam sebuah kebaktian, ada seorang jemaat sampai tertawa terbahak-bahak. Kondisi demikian membuat Subekti protes dan tidak puas karena Firman Tuhan sepertinya disampaikan secara tidak serius dan terkesan hanya main-main.

 

Mendapat panggilan Tuhan

Kekeringan rohani sepertinya akan terobati pada  tahun 1964, saat diselenggarakan Youth Camp pertama Gereja Bethel Tabernakel di Malang. Tetapi, meski rekan-rekan satu angkatan banyak yang tergerak hatinya untuk memutuskan diri menjadi hamba Tuhan, namun Subekti tetap tak bergeming.

Ternyata hatinya masih keras, dalam hatinya ia berkata saya mau jadi pendeta jika Tuhan sendiri yang memanggil.  Meski sudah mendapat ”tanda-tanda” panggilan namun Subekti tetap belum mengambil keputusan juga.

Suatu malam  sebelum berangkat ke Youth Camp di Malang, antara tidur dan tidak tidur, Subekti mendapat penglihatan dari Yesus berupa tulisan di langit bahwa Dia akan datang segera, lalu ada pesan suara yang menyatakan, kalau sudah bernazar jangan bertanya lagi. Dengan kata lain, kalau sudah menyatakan diri jangan ragu-ragu lagi. Saat itu juga Subekti terbangun, kemudian bergegas mencari ayat tentang hal itu. Dari situlah, ia semakin yakin bahwa itulah teguran Tuhan terhadap dirinya yang masih saja keras hati. Subekti kemudian mencari dan akhirnya menemukan sebuah ayat di Pengkhotbah 5:3-6 dan Kitab Ulangan 23:21-23, yang berisi tentang nazar.

Selain mimpi itu, Subekti mendapat penglihatan tentang Tabernakel, rumah Allah yang cemerlang berkilau putih. Di Tabernakel itu, Subekti berdiri di sebelah Timur dan ia juga melihat Dr. Yusuf Bijak Saleh, yang sekarang menjadi pendeta di Gereja Bukit Zaitun Surabaya, rekan seangkatan yang ketika itu masih menjadi dokter di Magetan berdiri di sebelah Barat. Subekti merasa yakin bahwa penglihatan tersebut adalah panggilan Tuhan baik bagi dirinya maupun Dr. Yusuf. Setahun setelah mimpi itu, Dr. Yusuf pun menjadi pendeta.

Tetapi, apa yang terjadi, mendapat penglihatan sedemikan rupa Subekti tetap belum bergeming. Dalam konferensi Youth Camp itu, Subekti tetap saja tak mau maju untuk komitmen. Ia bersedia menjadi Hamba Tuhan jika Tuhan mengatakan sendiri kepadanya.

Setelah kembali ke Jakarta, ia pun terus berdoa mencari jawabannya. Saat membaca Yakobus 1:6-7, demikian: ”Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian jangalah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” Ayat itu menegur diri Subekti yang sebelumnya masih saja terus bimbang. Akhirnya, ia yakin bahwa itu adalah perkataan Tuhan.

Kemudian ia diteguhkan lagi dengan firman Tuhan yang disampaikan oleh pendeta Matius Akib, orang asli Padang pertama yang menjadi pendeta di Gereja Bethel Tabernakel di Jalan Mahoni, Jakarta.    Dalam salah satu khotbahnya, Pendeta Matius Akib menyatakan ada dosa yang disengaja dan yang tidak disengaja. Kalimat inilah yang juga semakin ”menusuk” relung Subekti dan semakin yakin bahwa ia mendapat panggilan untuk menjadi Hamba Tuhan.

Subekti juga merasa meski dirinya kurang senang dengan suasana gereja tempat ia biasa beribadah, lantaran saat khotbah lebih banyak banyolan-nya, tetapi justru dari situlah panggilan Tuhan ia rasakan makin kuat. Di suasana yang tidak baguspun ternyata bisa mengubahkan segalanya dan Subekti merasa dipanggil Tuhan saat berada di gereja tersebut.

Ujian panggilan Tuhan

Tidak mudah memang meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan dan banyak diidamkan orang seperti di IBM. Bahkan, saat pamit dari tempat kerja selama dua tahun yaitu pada 1964-1966, bosnya di IBM sampai kaget dan menanyakan apakah ada masalah dengan kantor, setelah dijelaskan alasan mundur, bos di IBM tetap mempersilakan Subekti kembali bekerja kapanpun.

Tentu keluar dari pekerjaan yang mapan dan menjadi hamba Tuhan ada konsekuensi dari sisi ekonomi, tetapi dia terus berdoa agar diberi kekuatan. Sampai ada kisah, suatu malam beberapa bulan setelah menjadi pendeta, Subekti bermimpi kembali bekerja di IBM. Pagi harinya, Subekti mencoba datang ke tempat kerjanya, ternyata disana tidak ada tanggapan positif dari pimpinannya. Ia akhirnya menangis dan tersadar, ia merasa berdosa kepada Tuhan mengapa bisa sampai tergoda untuk datang ke tempat kerjanya yang lama. Dalam hatinya, ia berkata ini adalah cobaan sebagai hamba Tuhan.

 

Mulai Pelayanan

Subekti  memulai pelayanannya di Jakarta pada bulan Februari tahun 1967 di  sebuah rumah di Jalan Pasar Baru Timur No 25 Jakarta yang luasnya hanya 3 x 5 meter persegi. Awalnya jumlah jemaat yang digembalakan 15 orang. Dalam waktu kurang dari setahun, jemaat yang digembalakannya berkembang menjadi 60 orang. Bangunan yang seluas ruko semakin sesak. Setahun kemudian, bangunan dibongkar dan diperluas menjadi 6×5 meter persegi. Untuk visitasi jemaat, Subekti menggunakan sepeda ontel. Ia mengayuh jarak berkilo-kilo meter tiap hari jika ada jemaat yang perlu dikunjungi atau sakit. Kondisi ini tentu saja sangat kontras dibanding ketika bekerja di IBM, dimana untuk operasional sehari-hari dia diantar mobil untuk perjalanan dinas.

Disaat gereja yang dipimpinnya mulai berkembang, pada usia 26 tahun, Subekti terkena sakit usus buntu. Sebenarnya setahun sebelumnya waktu di Bandung sudah pernah terkena penyakit tersebut tapi tidak tahu kalau sakit usus buntu, sebab ketika itu setelah di doakan oleh pendeta bisa sembuh. Tetapi kali ini sakit usus buntunya parah. Ia pun kemudian diopname di RSCM Jakarta dan langsung dimasukkan di ruang darurat dan ditempatkan di bangsal, berbarengan dengan puluhan pasien lain.

Tidur di bangsal yang banyak kutu busuk dengan tarif Rp. 25,-/hari membuat Subekti makin tersiksa, apalagi saat di ruang darurat dia diletakkan di kereta dorong yang terbuat dari alumunium. Dingin makin menusuk tulang lantaran sentoran AC persis mengarah ke badannya.

Subekti makin tak bisa menahan sakit karena tak segera dioperasi, saat masuk ruang darurat dokter di RSCM hanya memeriksa tetapi tidak segera mengambil keputusan untuk melakukan operasi. Untung saja, keesokan harinya ada profesor dari Universitas Indonesia yang sedang membimbing dokter-dokter muda. Saat profesor tersebut memegang perut Subekti, langsung menyatakan bahwa penyakit usus buntu yang diderita Subekti sudah sangat kronis. Maka, saat itu juga profesor tersebut memerintahkan dokter di RSCM untuk melakukan operasi tanpa harus berpuasa terlebih dahulu. Tentu, bila hari itu tidak ada profesor dan dokter muda yang praktek, kejadiannya sudah lain. Tetapi, mukjizat memang selalu terjadi di saat yang tidak bisa diduga. Dan, FirmanNya: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).

 

Datang ke Semarang

Setelah di operasi, Subekti kemudian kembali ke Surabaya untuk melakukan pemulihan selama kurang lebih satu bulan. Namun, ketika kembali ke Jakarta, tempat pelayanannya sudah diberikan ke rekan pendeta yang lain, Pendeta Yakub Tanso, yang beberapa tahun kemudian juga pindah ke Semarang menjadi pendeta GBI, di Jalan Kridonggo.

Lantaran tempat dia melayani sudah dilayani oleh orang lain, Subektipun kembali ke Surabaya. Di Surabaya dia bertemu dengan Pendeta Abraham Alex Tanusaputra, yang saat ini memiliki gereja terbesar di Indonesia, dan mengajaknya ke Semarang. Di Semarang,  Subekti diajak ke tempat paman Pendeta Alex yang bernama Tan Kee Hian bertempat tinggal di Jalan Pandanaran No 62. Di rumah tersebut Subekti menginap selama satu minggu.

Oleh Bapak Tan, Subekti sempat diajak bergabung di GIA Pringgading Semarang dan akan disekolahkan ke luar negeri, yang nantinya diharapkan menjadi pendeta di gereja GIA. Pringgading. Namun tawaran itu dia tolak.

Keinginan untuk melayani dan memenangkan jiwa di Semarang dimulai ketika diajak berjalan-jalan keliling di sudut-sudut kota Semarang oleh Pendeta Alex Tanusaputra. Ketika berkeliling ke kampung-kampung seperti Gang Besen, Gang Tengah dan beberapa kampung lain terutama disekitar pecinan, Subekti melihat sebagian besar di depan rumah mereka dipasangi semacam tempat untuk membakar dupa dan menyembah arwah. Melihat kondisi demikian, dalam hatinya berkeinginan kuat untuk memenangkan jiwa di kota ini. Subekti teringat ayat dalam Kisah Rasul 17, saat Rasul Paulus di Athena yang masih banyak orang menyembah berhala. Subekti merasa yakin, kota Semarang adalah kota yang sudah ditunjukkan oleh Tuhan agar ia melayani di kota ini. Akhirnya, ia memutuskan untuk merintis jemaat di kota Semarang.

 

Cikal Bakal GBT Semarang

Awal mula persekutuan dimulai pada Februari 1968 di rumah anak dari saudara ibunya yang bernama Ibu Tan Tiek Hie di Jl. Thamrin 68. Di rumah yang juga menjadi tempat jualan arang ini, Subekti mulai menggembalakan beberapa orang. Anggota-anggota persekutuan waktu itu adalah keluarga Tan Tiek Hie, Ibu Ngapiah, Ibu Munaryo, Ibu Rakinah dan Ibu Nafsiah.

Selain memimpin persekutuan di rumah Jl Thamrin, Subekti juga mengajar di beberapa tempat, antara lain di Lembaga Pendidikan Theologia Abdiel untuk mata kuliah Arkeologi, di Universitas Satya Wacana Salatiga untuk  mata kuliah Elektro (1968-1972), kemudian di Akademi Teknik Nasional Semarang dengan mata kuliah Teknik Elektro serta di SMA Nusaputera dan Karangturi sebagai guru agama Kristen.

Salah satu hal yang sampai sekarang tak bisa ia lupakan adalah ketika ia diberi tugas untuk mengajar Arkeologi oleh Direktur STT Abdiel, Ibu Hana Sebadja, pendeta GBI. Gajah Mada. Bagaimana tidak, ilmu tentang Arkeologi ini  sama sekali belum pernah dia pelajari. Maka, berbekal dari beberapa buku yang dibaca secara kilat, Subekti akhirnya mau juga mengajar Arkeologi.

Ternyata dari ”dipaksa” untuk mengajar Arkeologi inilah, dia banyak menemukan hal-hal baru dan pertanyaan-pertanyaan rumit di Alkitab ada jawaban dari mempelajari ilmu Arkelogi ini. Bahkan, sampai sekarang ilmu yang dia pelajari tersebut banyak berguna terutama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit seputar sejarah masa lalu.

”Keberhasilan” Subekti mengajar ilmu Arkeologi ini tak lain berkat dorongan Ibu Hana Sebadja yang saat itu memang setengah memaksa. Maka, ketika ibu Hana Sebadja akan memperingati ulang tahun yang ke-80, tepatnya pada tanggal 16 Pebruari 2009, Subekti akan memberikan sambutan khusus. Ia akan memberikan apresiasi kepada Ibu Hana yang memiliki andil besar dalam hidupnya, dari yang awalnya tidak mau mengajar Arkeolgi menjadi bersedia. Tetapi sayang, acara tersebut batal karena Ibu Hana dipanggil pulang ke Rumah Bapa seminggu sebelumnya.

Beberapa bulan setelah kebaktian rumah di Jalan Thamrin, Subekti akhirnya bisa membeli tanah di Jalan Seteran Selatan 53 seluas 250 meter persegi seharga Rp. 250 ribu. Uang tersebut hasil ”menguras” tabungan ketika bekerja di IBM dan menjual beberapa barang pribadi seperti jam, mesin ketik, barang yang laku dijual lainnya serta sumbangan dari rekan-rekannya di Jakarta serta keluarganya.

Sebelum dibelipun, Subekti sempat ditakut-takuti beberapa orang sekitar yang mengatakan, tanah yang ada rumah gubugnya tersebut dulunya digunakan untuk gantung diri. Menanggapi cerita itu, Subekti hanya tersenyum dan tak mempercayai hal-hal seperti itu.

Setelah terbeli, tanah kemudian dibangun dengan sederhana, tanpa eternit, bahkan temboknya hanya di plester dengan kapur dan pasir untuk menghemat biaya. Sedangkan semen sebagian besar sudah dipergunakan untuk pondasi. Gereja tersebut di sekat dua bagian, dari luas 7×18 meter persegi, untuk kamar di belakang  gereja 4×7 meter persegi. Kamar tersebut dipergunakan untuk kamar tidur sekaligus ruang makan Subekti dan keluarganya.

Proses pembangunanpun tak semulus yang dibayangkan, Subekti membeli semen sendiri menggunakan sepeda onthel diangkut satu per satu. Kehabisan uang ditengah proses pembangunanpun sudah menjadi hal biasa. Tetapi mukjizat selalu terjadi.

Subekti ingat betul bagaimana setiap hari Sabtu dimana ia harus membayar tukang, sementara uang tidak punya sama sekali. Sepeda motor, tabungan, bahkan jam tangan sudah dijual dengan harga murah. Bahkan, pernah suatu kali, salah satu pengerjanya yang bernama Freddy Mawikere pun kena siraman adukan semen oleh tukang bangunan lantaran Subekti belum bisa membayar tukang hingga hari Sabtu.

Dalam kondisi demikian, Subekti tak henti berdoa. Disaat dia berdoa itulah, tiba-tiba ada suara orang mengetuk pintu. Mukjizat kembali terjadi, ternyata yang datang adalah kakak mamanya dari Surabaya yang membawa uang. Jumlahnyapun pas untuk membayar tukang dan membeli sejumlah material. Padahal dia tidak pernah memberi tahu atau meminta uang kepada orangtuanya di Surabaya. Bahkan memberi kabar soal kesulitan keuanganpun tidak pernah.

 

Ibadah Perdana & Pertumbuhan Jemaat di Jalan Seteran Selatan 53

Setelah gereja yang belum selesai total namun dapat dipakai, maka pada tanggal 18 April 1968 gereja mulai digunakan untuk kebaktian. Dua pekan sebelum pembukaan, Subekti terlebih dahulu membuka Sekolah Minggu. Itupun diawali dengan cara Subekti main gitar di depan gereja untuk menarik perhatian anak-anak. Dengan permainan gitar dan bernyanyi ini kemudian banyak anak yang tertarik datang, dan Subekti menawari mereka untuk datang Sekolah Minggu.

Dari beberapa murid Sekolah Minggu inilah, Subekti yang ketika itu dibantu Freddy Mawikere, memulai kebaktian. Jumlah anak yang hadir saat itu 12 anak. Murid-murid pertama dalam Sekolah Mingga adalah ketiga putri dari keluarga Bwa Gwan Swie, yakni Ninik Bwa Mien Tje, Bwa May Lan dan Caroline.

Dari murid-murid Sekolah Minggu inilah, Subekti kemudian juga menginjili orang tuanya. Tak hanya itu, Subekti juga berkeliling di sekitar Jalan Seteran, Jalan Pekunden dan sekitarnya.

Di Pekunden Timur, Subekti juga bertemu dengan Ibu Rakinah dengan anaknya, Budiadi, yang akhirnya menjadi jemaat di Jalan Seteran. Sekarang Budiadi, yang menikah dengan Indriyati,  keduanya masih menjadi guru Sekolah Minggu. Jemaat awal lain yang sangat dia ingat adalah Ibu Munaryo, tetangga gereja. Pada awal-awal mulai mendirikan gereja, jemaat yang datang sebagian besar adalah orang-orang sederhana dengan pekerjaan yang sederhana pula. Namun, semangat mereka untuk mengikut Tuhan sangat tinggi walaupun ditengah serba keterbatasan dan jauh dari nyaman.

Kisah lain yang meninggalkan kesan adalah, gereja di Jalan Seteran yang ketika itu belum ada pagarnya menjadi ”sasaran” kambing warga sekitar untuk berteduh. Kebetulan rumput di depan gereja juga tampak hijau dan segar, maka banyak kambing yang tertarik untuk mencari makan di depan gereja.

Tapi lagi-lagi Tuhan kembali bekerja. Suatu siang, saat gerombolan kambing berbaring di depan pintu gereja, seorang ibu yang mengendarai vespa berhenti di depan gereja dan menanyakan kenapa tidak diberi  pagar, lalu Subekti menjelaskan kendala dana untuk pembangunan pagar tersebut.

Ibu itu kemudian menyuruh Timotius Subekti memesan pagar dan diberi uang Rp. 25 ribu, jumlah yang relatif besar untuk ukuran saat itu. Subektipun memesan pagar di Jalan Suyudi. Namun, setelah jadi ternyata harga pagar melonjak menjadi Rp. 40 ribu. Sebab kurang Rp. 15 ribu Subekti tidak bisa mengambil pagar yang sudah dipesan. Beberapa waktu kemudian, ibu tersebut kembali datang dan menanyakan soal pagar yang belum juga terpasang. Setelah diberi penjelasan bahwa uangnya kurang, ibu yang bukan jemaat gereja tersebut menambahi kekurangannya. Tentu, setelah ada pagar, gerejapun terbebas dari ”serbuan” kambing.

Di tengah perjalanan pelayanannya, Subekti dipertemukan oleh Tuhan dengan Ibu Susana Hildarianti dan menikah pada 25 Nopember 1969 di Temanggung. Bersama ibu Susan, Subekti terus berkeliling mencari jiwa. Jumlah anggota gerejapun terus meningkat. Ia dan istrinya hampir tiap hari ‘blusukan’ ke kampung-kampung. Bukan hal yang mudah memang, sebab tidak semua orang yang didatangi menerima dengan baik maksud kedatangannya. Tetapi, banyak jiwa yang dimenangkan. Beberapa nama yang dia ingat saat pertama kali melakukan penginjilan antara lain Kastiono, Budiadi, Sie Ay Hong, Bie Hwa, Gien Loei dan Kiem Lian.

Tiap tahun jemaat terus bertambah. Bahkan, setiap akan ada kebaktian, dibantu dua pengerjanya yaitu Freddy Hariyanto dan Edward Stefanus,  Subekti harus bangun pukul setengah 4 pagi untuk memasang tratak karena gereja tidak bisa menampung seluruh jemaat. Kursinyapun menggunakan bekas kursi makan sebuah rumah makan di Jakarta pemberian dari Bapak Neria. Kursi-kursi tersebut tentu harus dibetulkan dulu karena sudah jebol di beberapa tempat. Akhirnya, Subekti bersama Edward Stefanus mengecatnya dan menganyam sendiri dengan tali-tali plastik untuk memperkuatnya.  Beberapa aktivis gereja yang ikut membantu saat itu andalah Yafet Purnama, Arnold Martin Kandau, Yahya Sulaiman, Gamaliel Ekawanto, Oei Swie Liem, Manneke Martinus dan Tan Herta.

Dalam menjalani kehidupan sebagai Hamba Tuhan, Subekti juga sering kali kekurangan dalam masalah ekonomi. Kolekte seminggu hanya cukup untuk belanja sayur tiga hari saja. Untunglah kekurangan tersebut ditutup dengan honor mengajar di beberapa tempat seperti yang telah diterangkan di depan. Dalam masa perintisan itu, ia dikaruniai tiga putri yakni Eunike Subekti lahir 13 Januari 1972, Milka Subekti lahir 11 April 1973 dan Sifera Subekti lahir pada 21 Desember 1974.

Pernah, suatu ketika Subekti sedang mengajar ke luar kota, istrinya, Susana Subekti menggantikan dia berkhotbah. Namun karena masih menggunakan penerangan lampu petromaks, jadi kalau saat kebaktian petromaks tiba-tiba mati, Susana harus naik menggunakan kursi untuk menurunkan dan memompanya agar lampu menyala kembali.

Meski dalam kondisi serba terbatas, Subekti dan istrinya tetap semangat dan penuh sukacita menggembalakan dan terus mencari jiwa-jiwa baru. Hingga akhirnya, gereja semakin penuh dari puluhan menjadi ratusan, sekitar 300 orang. Maka, pada 13 Januari 1974 diadakan kebaktian sore untuk menampung jemaat yang tak muat pada kebaktian pagi.

 

Mengembangkan Sayap ke Tanah Mas

Cikal bakal pembangunan gereja menjadi lebih besar dimulai pada tahun 1975, saat Willy Hendrowijono yang tinggal di Jalan Labuhan 1 No 14 masuk menjadi anggota gereja. Willy memprakarsai untuk membongkar pastori gereja sehingga ruang ibadah lebih luas. Subekti dan keluargapun diperkenankan tinggal dirumahnya di Jalan Lingga II No 3, kemudian ke Jalan Lingga III No 3 sampai tahun 1980.

Ternyata Tuhan terus bekerja mengembangkan gereja yang didirikan Subekti ini. Pada tahun 1978, anggota jemaat bertambah menjadi 400 orang. Tentu, gedung yang lama di Jalan Seteran tidak dapat menampung jumlah jemaat sebanyak itu. Maka, atas usul dan prakarsa Willy, Pendeta Subekti dan jemaat kemudian mencari tanah.

Pada tahun 1976, pengembang PT. Tanah Mas membuka lahan perumahan, dan gereja kemudian memutuskan membeli di Jalan Kalimas Raya A-45 seluas 2.200 meter persegi dengan harga Rp. 4 juta. Gereja  mendapat potongan harga sampai separo karena untuk tempat ibadah. Pembayaranpun  diangsur karena keterbatasan dana saat itu.

Pembangunan gereja dimulai pada 1 Januari 1979, diawali dengan kebaktian peletakan batu pertama dipimpin oleh Pendeta Timotius Roy Kartiko dari Magelang. Pendeta Timotius Subekti tidak bisa memimpin kebaktian saat itu karena sedang sakit pendarahan lambung untuk kedua kalinya.

Panitia pembangunan yang diketuai Willy Hendrowijono berhasil menyelesaikan dengan tepat waktu pada 16 Oktober 1979. Hari itu merupakan hari pentahbisan Gereja Bethel Tabernakel ”Kristus Alfa Omega” Tanah Mas. Luas bangunan gereja 32×12 meter persegi dan mampu menampung sekitar 600 orang.

Pada tahun 1980, beberapa bulan setelah gereja di Jalan Tanah Mas jadi, Subekti sekeluarga pindah ke pastori semi permanen di Jalan Kalimas Raya A-45 Semarang. Ketika itu, anggota jemaat Seteran yang mau datang ke Tanah Mas hanya 75 orang. Namun kian hari jumlahnya kian bertambah, demikian pula dengan yang di Jalan Seteran. Seiring dengan pertumbuhan itu, Tuhan mengirimkan lebih banyak pelayan-pelayan Tuhan, antara lain Kornelius Djasmani, Kaleb Naftali, Andrianus Anggaputra, Setiabudi Adi, Christian Hardiman, Yeremia Suryana, Sundoro Jahja dan banyak yang lain.

Pada 1981 kembali dilaksanakan pembangunan tahap kedua di area gereja Tanah Mas. Gedung  dibangun dua lantai, lantai satu untuk pastori dan lantai dua untuk ruang serba guna, yang kemudian dikenal dengan nama Bait Alfa Omega dan ditahbiskan tahun 1982.

 

Pembangunan Tahap Pertama di Jalan Gajah Mada

Waktu bergulir, jemaat GBT Kristus Alfa Omega baik yang di Tanah Mas dan Seteran Selatan terus berkembang. Bahkan, jumlahnya pada tahun 1983 saja mencapai 800 sampai 900 orang. Mengingat daya tampung gereja di Jalan Seteran tidak sebesar itu, kebaktian pun sempat dipindah sementara dengan menyewa gedung Wisma Pandanaran di Jalan Gajahmada (sekarang dealer mobil Honda).

Dengan makin bertambahnya jemaat ini, gereja makin tidak mampu menampung. Pengurus yang diprakarsai Willy kemudian mencari lokasi baru yang dekat Jalan Seteran. Maka salah satu tempat yang dituju adalah di Jalan Gajah Mada 114-118 seluas 2.400 meter persegi. Namun, untuk mendapatkan tanah yang sekarang menjadi kantor pusat GBT. Kritus Alfa Omega ini, harus melalui jalan yang berliku karena harga yang ditawarkan terlalu tinggi.

Atas saran salah seorang jemaat, Haryono Mulyawan, pengurus kemudian mencoba mendekati pemilik tanah tersebut. Lagi-lagi proses untuk mendapatkan tanah inipun memiliki sejarah unik. Saat baru dibeli dari pemiliknya yakni Bapak Djunaidi, yang juga pemilik Flora Motor Semarang, tiba-tiba ada keputusan pemerintah mengeluarkan kebijakan pemotongan uang atau devaluasi. Penandatanganan akta jual beli dihadapan notaris dilakukan tanggal 15 November pagi dengan jangka waktu pembayaran 20 bulan, tetapi malam harinya, tanggal 15 November 1986, pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi itu. Sehingga rencana cicilan 20 bulan ditolak pemilik tanah dan setelah dilakukan negosiasi dengan Bapak Djunaidi dan dengan pertolongan Tuhan pembayaran disetujui menjadi 10 bulan saja. Itupun dengan pertolongan Keluarga Haryoseno yang rela meminjamkan uang tanpa bunga, akhirnya semua berjalan lancar.

Pembangunan gereja tahap pertama di Jalan Gajah Mada ini dimulai pada tanggal 31 Maret 1987. Hal unik kembali terjadi saat dilakukan penggalian untuk fondasi. Setelah digali kira-kira 3 meter, ditemukan 14 meriam buatan tahun 1.700-an atau merupakan produk VOC. Anehnya lagi, beberapa meriam tersebut berlabel “αΩ“ (Alfa Omega) padahal Gereja Bethel Tabernakel di Tanah Mas yang dipimpin Pendeta Subekti ini sebelumnya sudah memakai nama Gereja Bethel Tabernakel “Kristus Alfa Omega”. Meriam-meriam tersebut diantaranya kini dipajang di halaman Balaikota Semarang, Museum Ronggowarsito Semarang serta yang lain ditempatkan di markas TNI. Dari penemuan ini, gereja mendapat dana kompensasi sebesar Rp. 4 juta. Pembangunan akhirnya bisa diselesaikan dengan memakan biaya sebesar Rp. 1,35 miliar. Dan pada 1 Mei 1989, GBT. Kristus Alfa Omega Gajah Mada ditahbiskan.

 

Pembangunan Tahap Kedua di Jalan Gajah Mada

“Akan hal  ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Fil 1:6). Oleh AnugrahNya, GBT Kristus Alfa Omega terus berkembang pesat merambah ke berbagai kota di Indonesia. Pada tahun 1991, diadakan pembangunan kampus Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega (SALOM), di Jalan Puri Anjasmoro J1-10A Semarang.

Dan, pada tahun 1993 dilanjutkan dengan pembangunan gedung gereja di kompleks kampus STT SALOM. Selain merintis jemaat dan membangun gedung-gedung gereja di seluruh Indonesia, juga dibangun Panti Wreda “Omega”, di Jalan Rorojonggrang, Manyaran, Semarang.

Untuk memenuhi kebutuhan ruang-ruang dan tempat parkir, maka diadakan pembangunan tahap kedua, di Jalan Gajah Mada 114-118 Semarang. Setelah melalui pergumulan doa, maka dapat dibeli sebidang tanah seluas 900 meter persegi, yang sebelumnya adalah lapangan basket milik Yayasan Olah Raga “Sahabat” dan beberapa rumah yang berdekatan. Pembangunan dimulai pada tanggal 3 April 2006. Atas dukungan seluruh jemaat dan pihak-pihak yang terbeban, maka pembangunan dapat diselesaikan dan ditahbiskan pada tanggal 21 April 2009.

Adapun biaya pembangunan sampai dengan 18 Maret 2009 adalah sebesar Rp.19,37 Milyar, ditambah sumbangan-sumbangan materi, antara lain kursi, AC, semen, kaca, atap, gypsum dan lain-lain.

Tuhan masih memberi kepercayaan kepada GBT Kristus Alfa Omega untuk berperan secara aktif dalam memperluas kerajaan Tuhan Yesus di bumi. Ada beberapa proyek pembangunan yang masih akan terus dilaksanakan dan butuh dukungan, seperti : pembangunan sekolah Daniel Creative School (DCS), kampus STT SALOM, rumah retret, serta gedung parkir yang masih diperlukan untuk penunjang ibadah di Jalan Gajah Mada.

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah,  dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (I Kor 15:58).